Sebenarnya yang mau saya bahas adalah masalah utamanya. Banyak orang bilang bahwa Indonesia dinilai terlambat untuk mengklaim budayanya, sehingga hak cipta suatu budaya di Indonesia masih belum jelas. Walaupun sekarang Indonesia mulai tergerak pada hal itu, namun budaya Indonesia sudah banyak yang diklaim oleh Malaysia.
- Reog Ponorogo Diklaim Malaysia, MADIUN--MEDIA: Para sesepuh dan tokoh kesenian reog Ponorogo, Jawa Timur, kecewa dan akan berjuang mempertahankan kesenian reog Ponorogo yang kini diklaim sebagai kesenian asli oleh Malaysia.
Salah seorang tokoh kesenian Reog Ponorogo, Ahmad Tobroni, Kamis, di Ponorogo, mengaku sangat kecewa saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementerian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia yang mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian reog Ponorogo tersebut
adalah milik Pemerintah Malaysia.
"Sebagai warga dan pecinta seni reog, saya meresa kecewa dengan sikap Malaysia dengan seenaknya mengklaim seni reog adalah miliknya. Untuk itu kami akan berjuang mempertahankan warisan budaya yang kami miliki," katanya.
Menurut dia, dalam situs internet tersebut menyebutkan tari Barongan yang terdiri dari beberapa penari seperti dadak merak atau barong jathil, seorang raja dan bujangganong mirip dengan tarian kesenian reog Ponorogo.
Selain itu di dalam portal tersebut dinyatakan tarian barongan ini adalah warisan melayu yang dilestarikan dan bisa dilihat di batu pahat Johor dan Selangor Malaysia.
Beredarnya kabar tarian Barongan tersebut membuat warga Ponorogo dan instansi pemerintahan setempat sempat kaget. Pasalnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo sendiri telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan hak asasi manusia Republik Indonesia.
Selain itu, kata Tobrani, sangat tidak relevan jika Malaysia mengklaim kesenian reog adalah miliknya karena selama ini untuk memiliki peralatan tersebut saja mereka membeli dari ponorogo.
"Jadi tidak mungkin bila sebuah Negara memiliki kesenian kebudayaan dan tidak mampu membuat peralatannya sendiri," katanya.
Untuk membuktikan hal itu, Tobroni juga sempat melakukan pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para perajin mengaku dalam tahun ini banyak mendapatkan order dari para pelangannya di Malaysia.
"Itu adalah bukti bahwa Malaysia melakukan penjiplakan," katanya. - Tari Pendet Diklaim Malaysia, Jakarta (Ansor Online): Klaim kebudayaan Indonesia oleh Malaysia kembali terjadi. Sebelumnya, tari Reog, lagu Rasa Sayange, batik, Hombo Batu, Tari Folaya diklaim oleh Malaysia, dan kini tari pendet menjadi rebutan. Hal ini berawal dari iklan pariwisata Malaysia yang menampilkan tari pendet. Iklan ini menimbulkan kritikan-kritikan di berbagai kalangan di Indonesia. Salah satu situs jejaringan berusaha menyuarakan kritikan mereka agar pemerintah lebih tegas untuk mempertahankan kebudayaan Indonesia. Seorang budayawan di Indonesia menyatakan bahwa ini merupakan kesalahan pemerintah. Kalangan lainnya, seorang artis dan penyanyi yang selalu menyuarakan nasionalismenya, dalam situs Twitter menyatakan bahwa Indonesia harus bersatu dengan tidak hanya menghina apa yang negara lain perbuat. Seharusnya kitalah yang lebih aktif menghargai budaya Indonesia. Tari pendet yang diklaim oleh Malaysia adalah tarian tradisional asal Bali. Tarian ini merupakan tari pemujaan yang banyak ditarikan di pura-pura. Tari pendet melambangkan penyambutan atas turunnya dewata kea lam dunia. Seiring dengan perkembangan jaman, seniman Bali menjadikan tari pendet sebagai tari selamat datang. Pendet dapat ditarikan oleh pria dan wanita.(vibizdaily.com)

- Lagu Maluku "Rasa Sayang-Sayange" di-klaim Malaysia, Anda pasti hafal atau setidaknya pernah mendengar lagu 'Rasa Sayang Sayange' kan?. Selama ini bangsa Indonesia mengenalnya sebagai lagu daerah dari Sulawesi/Maluku. Namun, saat ini lagu terkenal ini jadi lagu iklan pariwisata Malaysia.
Dengan dijadikannya lagu ini sebagai sound track iklan pariwisata di Malaysia, maka diskusi mengenai lagu ini pun menjadi heboh. Apalagi, sudah banyak orang yang melihat iklan pariwisata ini diiklankan di televisi-televisi Malaysia. Orang Indonesia pun langsung teringat, "Lho.. lagu ini kan lagu Indonesia?"...
Heboh lagu 'Rasang Sayang Sayange' ini juga menjadi bahan diskusi menarik di DetikForum. Banyak juga informasi yang berkembang di arena diskusi secara online tersebut.
Siapa sebenarnya yang menciptakan lagu ini pertama kali? Apakah memang orang Malaysia ataukah orang Maluku? Jiplak-menjiplak lagu seperti ini sudah sering terjadi. Namun, agar masyarakat tidak bingung, tentu pemerintah Indonesia atau lembaga berkompeten sebaiknya menelusurinya.
Anda bisa menyimak iklan pariwisata Malaysia yang menggunakan lagu 'Rasa Sayang Sayange' ini di http://www.youtube.com/watch?v=_J-WPdBSS6c atau di website resmi pariwisata Malaysia: http://www.rasasayang.com.my/index.cfm.
Memang lirik lagu ini tidak sama dengan lagu Rasa Sayang Sayange yang beredar di Indonesia. Bahkan, ada tambahan lirik dalam bahasa Inggris, Mandarin, dan India. Lirik dalam banyak bahasa ini memperlihatkan keragaman suku atau asal di Malaysia. Namun, dana yang digunakan iklan pariwisata Malaysia ini sama.
"Tapi, ini adalah lagu Indonesia. Tidak ada bahasa Melayu pakai akhiran 'e' (Rasa Sayang Sayange)," komentar salah peserta diskusi. Intinya, peserta diskusi di detikForum mempertanyakan mengapa lagu Maluku itu dipakai iklan Malaysia.
Kalau diperhatikan lebih jauh, ternyata lirik lagu yang digunakan Malaysia itu tidak menggunakan kalimat 'Rasa Sayang Sayange'. Tapi, Malaysia menggunakan lirik 'Rasa Sayang Sayang Hey... - Batik Indonesia Di Klaim Milik Malaysia, Wah kenapa seh negara tetangga kita ini selalu cari masalah dan perkara sma orang INdonesia padahal dulu mereka sangat menghormati bangsa Indonesia dan mereka juga bisa seperti sekarang ini karena Indonesia.Kenapa seh sekarang Malaysia jadi asak ngomong dan asal ngaku2 aja barang milik Negara Indonesia kita ini apa karena sekarang Indonesia sedang jatuh dan warganya bodoh2 dan Malaysia dengan sombongnya sudah menjadi negara maju.Ada apa denganmu Malaysia???kenapa Kamu jadi begini menjadi bangsa yang gak berpendidikan dan mengaku2 punya Indonesia kamu akui juga.....jangan sampai terjadi PErang Dunia 3, JAKARTA - Departemen Hukum dan HAM (Depkum HAM) dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) akan mendaftarkan ratusan ribu kebudayaan Tanah Air yang sampai saat ini masih belum terdaftar sebagai hak kekayaan intelektual.
Hal tersebut dilakukan dua instansi tersebut sebagai langkah antisipasi adanya klaim atas kebudayaan Indonesia oleh negara lain.
"Kami bekerja sama dengan Budpar untuk mendaftarkan budaya kita di HAKI. Ada ratusan ribu seperti reog ponorogo, kesenian, patung, arca, belum lagi cerita rakyat seperti malin kundang. Lama-lama nanti itu diklaim pula," ungkap Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) Andi Mattalatta usai mengikuti gerak jalan sehat dalam rangka pembukaan kegiatan Hari Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Sedunia ke-8, di Lapangan Monas, Jakarta, Minggu (27/4/2008).
Sebagai contoh, menurut Andi saat ini seluruh produk batik hasil industri dalam negeri sudah diwajibkan diberi logo batik Indonesia.
"Sekarang untuk batik Indonesia ada logo batik Indonesia. Sekarang semua batik produksi Indonesia diwajibkan mengenakan logo batik Indonesia, di luar itu berarti palsu," imbuhnya.(jri)
sumber : okezone



0 komentar:
Posting Komentar